Cerita berdasarkan pengalaman nyata. Nama dan lokasi disamarkan; beberapa adegan, percakapan, dan detail suasana dikembangkan untuk kepentingan penceritaan. Rincian benturan sengaja tidak diuraikan. Ilustrasi merupakan tafsir artistik, bukan dokumentasi kejadian.
BAGIAN 01 / 08
Foto di Atas Televisi
Pada suatu akhir pekan di bulan Oktober 2025, kami mensyukuri hari lahir anak kami. Saya sedang libur kerja, sehingga pagi tidak dimulai dengan terburu-buru mencari kunci motor atau menghitung waktu tempuh ke kantor. Perayaan kecil itu hanya untuk kami bertiga: saya, istri, dan anak kami. Kami menyiapkan makanan secukupnya, lalu membagikan sebagian kepada beberapa tetangga. Tidak ada tamu yang memenuhi rumah. Justru karena sederhana, hari itu terasa milik kami sepenuhnya. Anak kami belum mengerti mengapa kami memandanginya dengan mata berbinar; ia hanya tahu kedua orang tuanya ada di dekatnya.
Perayaan sederhana bertiga di rumah pada hari lahir anak kami.
Kami juga pergi ke studio untuk berfoto sendiri. Tidak ada fotografer yang mengatur posisi kami. Kami bergantian merapikan baju anak, mengecek layar, lalu menekan tombol rana ketika bertiga sudah masuk bingkai. Beberapa kali anak kami menoleh pada saat yang salah. Kami tertawa, mengulang, dan mencoba lagi. Saya masih ingat betapa mudahnya melakukan hal-hal itu: bergeser selangkah, membungkuk sedikit, mengangkat anak, lalu berdiri tegak ketika lampu kamera menyala.
Kami berfoto sendiri di studio, memakai tombol rana tanpa fotografer.
Hasilnya kami cetak. Tanpa bingkai, foto itu kami pajang di atas televisi. Sesekali saya melihatnya sambil lewat dan merasa senang karena kami berhasil menyimpan satu hari biasa dengan cara kami sendiri. Saya belum tahu bahwa pada November, foto sederhana itu akan berubah menjadi pengingat tentang tubuh yang dulu saya kira akan selalu menurut.
Senin datang, dan saya kembali bekerja. Seperti biasa, pagi hari saya mengenakan helm dan jaket, lalu berangkat dengan motor yang sudah lama setia mengantar saya ke mana pun keluarga kecil kami perlu pergi. Dua puluh enam kilometer memisahkan rumah dan kantor. Saya melewati ruas jalan yang sama saat matahari mulai naik, bekerja sepanjang hari, lalu menempuhnya lagi ketika cahaya berkurang. Di rumah, istri dan anak kami melanjutkan hari mereka sendiri; kadang saya hanya bertemu bagian akhirnya, ketika anak sudah mengantuk dan istri masih menyisakan tenaga untuk menanyakan bagaimana pekerjaan saya.
Senin pagi saya kembali berangkat kerja dengan helm dan jaket.
Selasa dan Rabu datang dengan irama serupa. Berangkat, bekerja, pulang. Ada hal-hal kecil yang terasa sangat biasa: menaruh kunci motor di tempatnya, melihat foto di atas televisi, mendengar suara anak sebelum tidur. Pekan demi pekan berlalu sejak perayaan kecil itu. Saya tidak menghitung berapa kali berhasil pulang tanpa berpikir tentang perjalanan. Barangkali demikian cara sebuah rumah menjadi rumah: kita percaya jalan menuju ke sana akan selalu tersedia esok hari.
Pada Kamis, 13 November 2025, saya kembali menempuh jalan pulang seusai bekerja, sekitar pukul tujuh malam. Malam Jumat mulai turun. Rute itu sudah saya kenal sampai beberapa belokannya terasa seperti bagian dari kebiasaan, bukan lagi keputusan. Di rumah ada istri saya, anak kami, dan kehidupan kecil yang terus berjalan meskipun saya terlambat pulang. Istri saya sedang hamil muda. Saya membayangkan akan segera melihat mereka, lalu malam kembali berlangsung seperti malam-malam lain.
Lalu lintas malam itu cukup lancar, dan laju motor saya cukup tinggi. Di depan ada mobil; di belakang, banyak kendaraan mengikuti arus yang sama. Udara lembap, seperti menyimpan hujan yang belum sungguh-sungguh turun. Ketika rumah tinggal beberapa menit lagi, mobil di depan mengerem mendadak. Saya ikut mengerem. Dalam jarak yang mendadak terasa terlalu pendek, saya menyadari betapa cepat keadaan dapat berubah. Sesudah itu ada bagian dari kejadian yang tidak ingin saya ceritakan secara rinci. Yang perlu diketahui adalah saya terjatuh dari motor, dan bagian motor mengenai belakang kaki kanan saya, dekat tumit.
Malam terasa gelap sekali ketika saya melihat motor tergeletak tidak jauh dari saya. Di belakangnya, sejumlah pengendara berhenti dan menyaksikan. Suara kendaraan, cahaya lampu, dan rasa sakit datang hampir bersamaan.
Motor tergeletak di jalan malam itu; kaki kanan saya terluka.
Perasaan saya tidak karuan. Yang muncul di kepala hanya wajah istri dan anak kami. Saya harus tetap sehat. Saya harus tetap kuat. Saya harus pulang. Namun saya bahkan belum tahu apakah kaki kanan masih bisa membawa saya berdiri.
BAGIAN 02 / 08
Orang-orang di Tepi Jalan
Beberapa pengendara berhenti dan mendekat. Saya masih berada di bagian tengah jalan ketika dua orang membantu saya bangkit. Mereka menopang tubuh saya dari kanan dan kiri, sementara saya berusaha memindahkan berat badan hanya ke kaki kiri. Kaki kanan saya angkat sebisanya; saya tidak berani menapakkannya. Kami bergerak pelan menuju tepi jalan. Jaraknya mungkin hanya beberapa langkah, tetapi di tengah lampu kendaraan yang menunggu di belakang dan rasa sakit yang mulai jelas, setiap langkah terasa seperti keputusan. Saya masih sadar. Dari luar, mungkin saya tampak tenang; di dalam kepala, wajah anak dan istri saya terus datang bergantian dengan pertanyaan yang tidak berani saya ucapkan. Saya harus bertahan, tetapi saya belum tahu apa yang terjadi pada kaki saya.
Orang-orang membantu saya ke tepi jalan tanpa menapakkan kaki kanan.
Kaki kanan saya terasa kaku, pegal yang sangat dalam, seperti baru dihantam benda tumpul. Saya menyingkap celana panjang untuk mencari sumber rasa sakit itu. Begitu melihat lukanya, saya tahu ini bukan cedera yang bisa dibawa pulang lalu dikompres. Orang-orang di sekitar saya pun segera menyarankan rumah sakit. Untungnya ada rumah sakit yang tidak jauh dari tempat kejadian.
Saya dibonceng menuju unit gawat darurat. Untuk bertahan di atas motor, saya harus bersandar pada orang yang mengantar. Motor saya dan barang-barang saya dibawa pengendara lain. Pada malam biasa saya mungkin tidak akan mengetahui nama mereka, apalagi menitipkan barang dan keselamatan saya kepada mereka. Malam itu saya tidak punya pilihan selain percaya, dan mereka tidak meminta alasan untuk membantu. Saya bahkan tidak sempat berterima kasih kepada orang yang membawa saya sampai rumah sakit. Saya ingin ia tahu bahwa perjalanan singkat itu tidak pernah terasa singkat bagi saya.
Di ruang gawat darurat, petugas mulai menangani luka saya. Entah berapa suntikan yang saya terima malam itu; yang saya ingat, ada di tangan kiri, tangan kanan, dan kaki. Pada setiap tindakan, saya mencoba mengingat satu hal yang tetap: saya masih bisa menghubungi rumah.
Saya menelepon istri dan meminta ia datang membawa pakaian ganti, sabun, perlengkapan anak, serta barang-barang yang mungkin kami perlukan. Saya memilih kata-kata agar ia tidak terlalu khawatir di perjalanan. Saya tidak langsung mengatakan seberapa serius keadaan saya. Barangkali ia tetap bisa mendengar sesuatu yang berbeda dari suara saya, tetapi saya ingin memberinya kesempatan menyiapkan diri tanpa harus panik sambil mengurus anak kami.
Saya memesan ojek online untuknya. Di luar, gerimis mulai turun. Anak kami masih kecil; tasnya saja bisa penuh oleh benda-benda yang bagi orang dewasa tampak remeh, tetapi akan sangat dicari ketika tidak ada. Saya menunggu sambil memandangi pintu ruangan, memikirkan bagaimana menjelaskan malam ini kepada seseorang yang seharusnya sedang bersiap istirahat.
Ketika istri tiba, ia melihat saya lebih dulu, lalu dokter menjelaskan luka dan perlunya tindakan operasi. Yang cedera bukan tulang yang patah; urat di belakang tumit kanan saya terputus. Saya tidak tahu bagian mana yang paling berat baginya: melihat kaki saya, mendengar kata operasi, atau menyadari bahwa mulai saat itu ia harus mengambil keputusan sambil menggendong anak kami. Saya hanya tahu matanya berusaha tetap fokus. Saya ingin bisa bangkit dan memeluknya, tetapi untuk duduk saja saya memerlukan bantuan.
Istri dan anak kami tiba di ruang gawat darurat.
Di tengah penanganan medis, urusan lain muncul satu demi satu. Ada laporan yang harus dibuat, berkas yang harus dilengkapi, biaya yang harus dipahami. Saya meminta istri membantu mengurus semuanya. Permintaan itu terasa berat keluar dari mulut saya. Biasanya saya ingin menjadi orang yang meringankan bebannya. Malam itu, dari tempat tidur rumah sakit, saya justru menyerahkan daftar pekerjaan yang tidak pendek kepadanya.
Seorang pengendara yang berada di lokasi kejadian tetap menemani kami. Ia membantu ketika istri saya harus bolak-balik antara rumah sakit dan kantor polisi. Saya tidak mengetahui apa rencana awalnya malam itu. Barangkali ada keluarga yang menunggunya pulang juga. Namun ia tinggal sampai urusan kami menemukan jalan. Banyak orang menolong di tepi jalan dan saya tidak sempat mengucapkan terima kasih kepada mereka satu per satu. Kehadiran lelaki ini membuat bantuan mereka terasa berlanjut sampai jauh setelah lampu kendaraan di lokasi kejadian menghilang.
Persyaratan untuk penanganan di rumah sakit pertama tidak dapat dipenuhi saat itu. Setelah berbicara dengan pihak rumah sakit, kami memutuskan pindah. Biaya yang tidak tertanggung harus kami bayar, hampir satu juta rupiah. Angka itu saya dengar dalam keadaan berbaring. Pada hari-hari berikutnya saya baru memahami bahwa sebuah angka di loket tidak pernah berdiri sendiri: di belakangnya ada uang belanja, ongkos perjalanan, dan simpanan yang sebelumnya punya tujuan lain.
BAGIAN 03 / 08
Ruang yang Sementara Kosong
Kami memesan mobil menuju rumah sakit kedua. Waktu sudah lewat pukul sepuluh malam. Saya dibawa masuk untuk pemeriksaan dan perawatan, sementara istri dan pengendara yang membantu kami mengurus administrasi. Di antara lorong, meja pendaftaran, dan pintu ruang tindakan, malam terasa lebih panjang daripada jarak dua puluh enam kilometer yang biasa saya tempuh.
Kami tiba di rumah sakit kedua setelah malam yang panjang.
Akhirnya saya mendapat kamar. Saat kami masuk, tempat tidur lain di ruangan itu belum terisi. Kami meminta izin agar istri dan anak kami dapat beristirahat sementara di salah satunya. Izin itu hanya berlaku selama tempatnya kosong. Kami menerimanya sebagai kelonggaran kecil yang sangat berarti. Andai ruangan sudah penuh, saya tidak tahu di mana mereka akan tidur.
Pengendara yang menemani kami pamit setelah memastikan kami menetap di rumah sakit. Saya mencoba menyampaikan terima kasih, meski rasanya kata itu terlalu pendek untuk seluruh waktu yang ia berikan. Dalam lelah malam itu, saya masih memikirkan para pengendara lain yang wajahnya pun tidak sempat saya ingat jelas. Keluarga kami sudah dihubungi dan akan datang keesokan hari. Barulah sekitar pukul satu dini hari, setelah laporan, perpindahan, pembayaran, dan berkas-berkas itu, kami mencoba tidur.
Saya melihat istri saya memosisikan anak kami agar nyaman. Tubuhnya sendiri pasti letih. Ia sedang hamil muda, dan hari yang seharusnya berakhir di rumah justru membawanya ke dua rumah sakit dan kantor polisi. Saya ingin mengatakan bahwa besok semua akan lebih mudah. Saya tidak mengatakannya. Saya belum tahu.
Pagi Jumat, sekitar pukul delapan, petugas datang menjemput saya dari kamar pasien. Tempat tidur saya didorong melewati lorong yang kini terang oleh cahaya pagi. Di depan pintu ruang operasi, perjalanan itu berhenti sejenak. Selama ini saya hanya pernah mengantar atau menunggu orang lain di sisi luar pintu seperti itu. Saya menoleh kepada istri, menggenggam tangannya sebentar, dan meminta doanya agar operasi berjalan lancar. Ia mengangguk. Kami sama-sama berusaha tenang, sementara petugas menunggu untuk membawa saya masuk.
Sekitar pukul delapan pagi, saya meminta doa di depan pintu ruang operasi.
Di ambang pintu itu saya teringat ketika istri menjalani operasi caesar untuk melahirkan anak kami di rumah sakit yang berbeda. Waktu itu saya menunggunya di luar dengan khawatir, berharap pintu segera terbuka dan keduanya selamat. Kini posisi kami bertukar. Saya takut menghadapi operasi kaki, tetapi teringat bagaimana ia mempertaruhkan nyawa untuk menghadirkan anak kami membuat rasa hormat saya kepadanya semakin dalam. Ia pernah melewati pintu ruang operasi sambil membawa hidup lain di dalam tubuhnya. Pagi ini, ketika sedang hamil lagi, dialah yang harus menunggu saya.
Di ruang operasi, punggung saya disuntik untuk bius setengah badan. Setelah bagian bawah tubuh perlahan kebas, saya dibaringkan tengkurap agar petugas dapat menjahit urat yang terputus di belakang kaki kanan, dekat tumit. Wajah saya menoleh ke samping. Di sekitar saya ruangan sangat sibuk: langkah petugas, suara alat, dan percakapan kerja yang harus tetap tepat meski bagi saya waktu seperti melambat. Kaki saya tidak terasa seperti kaki saya sendiri. Namun sesekali masih ada sensasi samar, seperti sayatan, suntikan, atau tusukan kecil yang jauh. Saya tidak melihat apa yang mereka kerjakan. Saya hanya bisa diam dan mempercayakan kaki yang selama ini membawa saya pulang kepada tangan-tangan mereka.
Operasi dilakukan pada bagian belakang kaki kanan saat saya tengkurap.
Operasi berlangsung kurang lebih satu jam. Setelah selesai, saya tidak langsung kembali ke kamar. Petugas membawa saya ke ruang pemulihan selama kira-kira satu jam lagi, memastikan tubuh saya cukup stabil setelah tindakan dan bius. Bagi saya, waktu itu berjalan dalam potongan-potongan kesadaran dan suara. Bagi istri yang menunggu sambil menjaga anak kami, pintu yang tertutup berarti hampir dua jam tanpa bisa memastikan keadaan saya dengan matanya sendiri. Saya membayangkan ia menengok setiap kali ada tempat tidur melintas, lalu menahan harapan ketika yang lewat bukan saya. Dulu saya pernah menunggu ia keluar dari operasi caesar; sekarang saya mengerti mengapa dua jam dapat terasa jauh lebih panjang daripada angka di jam dinding.
Istri menunggu sejak sekitar pukul delapan pagi bersama anak kami.
Ketika akhirnya saya kembali dan bisa melihatnya, keluarga juga sudah datang. Ada tangan lain yang bisa menggendong anak, ada orang lain yang dapat bergantian menjaga. Saya melihat wajah istri sedikit melonggar, seolah ia akhirnya boleh mengakui bahwa ia lelah. Saya pun lega melihat mereka. Kami tidak perlu mengatakan bahwa kami takut; cara kami saling memandang sudah cukup. Di tengah tubuh yang belum dapat digerakkan seperti biasa, kehadiran orang-orang terdekat membuat saya merasa masih utuh sebagai bagian dari keluarga ini.
Pada salah satu waktu makan setelah operasi, anak kami sedang bersama keluarga. Untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, kamar pasien terasa memberi kami ruang berdua. Saya berbaring dengan kaki kanan terbungkus dan ditinggikan; tubuh masih berat oleh lelah dan sisa pengaruh obat. Istri duduk di sisi tempat tidur, memegang mangkuk kecil, lalu menyuapkan makanan pelan-pelan. Ia menunggu sampai saya selesai menelan sebelum mengangkat sendok berikutnya. Gerakan itu sederhana, tetapi saya tahu tangannya juga letih: tangan yang semalam mengurus anak, berkas, perjalanan, dan ketakutan yang tak sempat ia ceritakan.
Saya memandang matanya di sela-sela suapan. Ada kelembutan yang tidak perlu menjadi kalimat besar. Saat ia melahirkan anak kami melalui operasi di rumah sakit lain, saya pernah menunggu dengan cemas dan ingin melakukan sebanyak mungkin hal agar ia nyaman sesudahnya. Kini kami bertukar tempat. Saya terharu karena ia masih memilih duduk dekat saya ketika sebenarnya ia pun membutuhkan istirahat. Saya menggenggam tangannya sebentar. Makanan itu segera habis; ingatan tentang cara ia menjaga saya tidak.
Istri menyuapi saya setelah operasi, sementara anak kami bersama keluarga.
Kami tinggal di rumah sakit tiga hari tiga malam. Semakin banyak pasien datang, ruang yang semula longgar kembali menjadi ruang perawatan sebagaimana mestinya. Anak kecil tidak dapat terus berada di sana. Istri saya pun harus membagi waktunya antara anak di rumah dan saya di rumah sakit. Anggota keluarga lain bergantian menemani saya.
BAGIAN 04 / 08
Pulang yang Belum Selesai
Hari Minggu kami berharap bisa pulang pagi. Proses pemeriksaan dan penyelesaian dokumen berlangsung lebih lama dari perkiraan, sehingga malam baru kami berangkat. Kami membawa surat kontrol dan rencana fisioterapi. Karena tidak punya mobil pribadi untuk menjemput, saya meminta bantuan rumah sakit menyediakan ambulans. Sekitar pukul delapan atau sembilan malam, ambulans mengantar saya sampai rumah. Keluarga ikut memastikan saya aman dan dapat beristirahat. Mereka baru pulang setelah semuanya tertata. Satu anggota keluarga tetap tinggal untuk membantu kami beberapa hari berikutnya.
Pintu rumah yang beberapa hari sebelumnya saya bayangkan sebagai garis akhir ternyata membuka bab lain. Kaki kanan belum boleh menapak lantai. Kruk belum tersedia di rumah; kami harus menunggunya sampai pekan berikutnya. Saya bergerak dengan satu kaki, berpegangan pada apa pun yang cukup kuat. Jarak dari pintu ke tempat tidur menjadi perjalanan yang harus direncanakan. Malam itu saya melihat keluarga yang berdiri di sekitar saya, masing-masing bersiap menangkap jika keseimbangan saya hilang. Saya merasa terharu sekaligus tidak enak hati. Belum pernah beberapa langkah ke kamar terasa melibatkan begitu banyak orang.
Di rumah, kaki kanan yang bergips tetap ditinggikan.
Minggu pertama saya hanya bisa tidur telentang. Miring sedikit saja perlu keberanian dan waktu. Untuk mandi, saya harus menjaga kaki agar tidak basah. Untuk ke kamar mandi, saya harus memikirkan langkah, pegangan, dan cara kembali. Hal-hal yang sebelumnya berlangsung tanpa kesadaran mendadak menuntut seluruh perhatian. Saya pernah menyepelekan kata mandiri karena terdengar biasa; baru setelah cedera saya tahu betapa banyak kebebasan bersembunyi di dalamnya.
Sembilan jahitan di bagian belakang kaki kanan harus dibersihkan dan dirawat setiap hari. Saya dapat menghitungnya, tetapi tidak dapat menghitung berapa kali saya menahan napas sebelum kaki disentuh atau digerakkan. Ada hari ketika saya lebih takut pada gerakan kecil daripada pada nyeri yang besar, sebab satu gerakan yang salah terasa bisa membuat usaha kami mundur. Ada pula rasa sakit yang tidak saya ceritakan. Saya merasakannya, menahannya, lalu berusaha hadir seperti biasa agar orang rumah tidak menanggung kecemasan tambahan. Tentu tidak setiap diam berarti kuat. Kadang saya hanya belum menemukan kata-kata yang cukup jujur tanpa membuat istri makin takut. Ia membantu sejauh yang ia bisa, di sela mengurus anak dan kehamilannya sendiri. Saya sering merasa menjadi sumber kerepotan, terutama saat orang lain harus melakukan sesuatu yang biasanya saya kerjakan.
Di sela hari-hari yang pelan itu, saya tetap berusaha menjaga kewajiban sebagai orang yang beragama. Pada malam kecelakaan, ada waktu ibadah yang terlewat ketika keadaan belum terkendali. Sesudah kami menetap di rumah sakit kedua, saya mengganti ibadah yang tertinggal dan kembali menjalaninya pada waktunya. Ada saat saya bertayamum; ada pula saat saya tertatih ke kamar mandi. Di rumah, ketika berdiri belum aman, saya beribadah sambil duduk di kursi, kedua tangan terlipat di atas perut dan kaki kanan yang cedera ditinggikan agar tidak menapak. Hari-hari saya diukur oleh obat, perawatan luka, dan waktu-waktu ketika saya dapat berhenti sejenak untuk menghadap Tuhan. Saya belum menjalani kontrol pertama; dua kruk yang akan membantu kami bepergian pun masih ditunggu.
Saya beribadah sambil duduk; kaki kanan yang bergips tetap ditinggikan.
BAGIAN 05 / 08
Hujan, Plastik, dan Dua Kruk
Ketika kruk akhirnya tersedia, istri saya pergi mengambilnya ke rumah sakit ditemani anggota keluarga yang masih tinggal bersama kami. Saya menunggu di rumah. Bagi orang lain itu mungkin hanya perjalanan mengambil alat bantu, tetapi bagi saya kedatangan mereka membawa dua kruk berarti ada sedikit kebebasan yang kembali. Saya bisa menjangkau bagian-bagian rumah tanpa selalu meminta seseorang datang. Bunyi ujung kruk di lantai menjadi irama baru di hari-hari kami. Ia tidak membuat saya sembuh, tetapi memberi ruang untuk mencoba.
Dua kruk membantu saya bergerak; kaki kanan bergips tidak menapak.
Beberapa hari setelah kruk tiba, anggota keluarga itu pulang. Ia sudah memastikan kami punya alat bantu dan mulai dapat mengatur keperluan sehari-hari; di tempat lain, ada tanggung jawabnya sendiri yang menunggu. Saya sedih melepas bantuan yang selama ini dekat, tetapi justru karena ia telah memberi waktunya, saya tidak ingin menganggap hari-harinya milik kami. Kontrol pertama berlangsung pada pekan berikutnya, setelah kruk kami terima dan ia pulang. Untuk perjalanan awal itu kami harus memesan mobil. Rumah kami berada di dalam gang, dan titik tempat mobil bisa berhenti cukup jauh. Bagi kaki sehat, beberapa meter itu tidak layak diceritakan. Bagi saya, beberapa meter bisa menjadi bagian paling melelahkan dari perjalanan.
Di rumah sakit, kunjungan yang cepat dapat memakan dua atau tiga jam. Ketika ramai, kami bisa berada di sana sampai enam jam untuk kontrol dan terapi. Anak kami ikut. Pada masa saya masih memakai kursi roda, istri mendorong dari belakang dan anak kami duduk aman di pangkuan saya. Dengan begitu ia tidak harus sekaligus menggendong anak dan mendorong saya. Sesekali anak menunjuk sesuatu di lorong, seolah tempat itu hanyalah perjalanan lain bersama ayah dan ibunya. Saya memegangnya lebih erat. Di antara antrean dan rasa sakit, berat kecil tubuhnya di pangkuan saya mengingatkan untuk apa saya bersusah payah belajar berjalan lagi. Perjalanan itu berulang, mula-mula dua kali seminggu, kadang lebih.
Istri mendorong kursi roda dan anak kami duduk aman di pangkuan saya.
Sesudah kondisi memungkinkan, istri saya mengantar dengan motor kami, kendaraan yang setia menemani keluarga kecil ini dan mengantar kami ke mana pun perlu pergi. Saya duduk menghadap depan di belakang; anak kami berada dalam gendongannya di bagian depan. Dua kruk saya pegang sepanjang perjalanan. Kaki kanan yang masih bergips saya jaga tetap terangkat, tidak menapak pijakan motor ataupun jalan. Perjalanan itu tidak lebih nyaman daripada mobil, tetapi motor bisa berhenti tepat di depan rumah dan biayanya lebih ringan. Kami membuat keputusan berdasarkan keadaan yang kami punya, bukan berdasarkan pilihan ideal yang tersedia di atas kertas.
Saya dibonceng sambil memegang dua kruk; kaki kanan tetap terangkat.
November dan bulan-bulan setelahnya membawa hujan. Kadang langit cerah ketika kami berangkat, lalu gelap saat pulang. Kami mengenakan jas hujan; kaki kanan saya dibungkus plastik agar tidak terkena air. Saya menjadi sangat peka pada suara rintik di atap parkiran dan genangan di dekat pintu masuk rumah sakit. Di kursi tunggu, saya memperhatikan orang-orang yang datang dengan kesulitan masing-masing. Tidak semua orang yang tampak diam sedang menunggu dengan ringan.
Pada satu masa, kulit di sekitar luka operasi mengalami iritasi karena perawatan yang belum tepat. Luka yang semula harus dijaga kini membuat hari-hari terasa lebih berat lagi. Saya harus mencari posisi baru ketika tidur karena sedikit gesekan saja mengganggu; saat bangun, berpindah tempat dan melakukan kegiatan kecil pun terasa tidak nyaman. Keletihan tidak selalu datang dari rasa sakit yang besar. Kadang ia terkumpul dari malam yang tidak nyenyak dan gerakan yang terus-menerus harus dipikirkan. Kami menambah kunjungan ke dokter kulit. Setelah dua kali pemeriksaan, iritasi itu teratasi. Satu gangguan kecil yang hilang terasa seperti ruang bernapas yang kembali.
Malam terasa lebih panjang ketika iritasi mengusik tidur.
Setelah beberapa minggu, jahitan dilepas. Sekitar sebulan sejak kecelakaan, gips dibuka. Kaki kanan tidak lagi terbungkus penuh, tetapi bagian belakang dekat bekas jahitan masih dibalut perban melingkar. Jari-jari dan sebagian besar kaki kembali terlihat; perban itu hanya menjaga area jahitan, bukan menutup seluruh tungkai seperti gips sebelumnya. Saya tidak lagi mengingat persis pekan ketika setiap tahap terjadi. Yang saya ingat adalah rasa cemas menjelang pemeriksaan dan rasa lega yang selalu disertai pekerjaan berikutnya: melatih kaki bergerak, melatih keberanian menapak ketika sudah mampu, lalu mengulang semuanya.
Gips sudah lepas. Keberanian melangkah datang perlahan.
Desember membawa hari ulang tahun istri saya. Gips kaki kanan sudah dilepas, tetapi bekas sembilan jahitan itu masih diperban dan langkah saya belum leluasa. Tahun sebelumnya saya dapat menyiapkan kejutan dan kado yang lebih mewah. Kali ini, bahkan kue yang telah kami pesan harus ia ambil sendiri di toko. Saya menunggunya pulang dengan perasaan yang sulit saya jelaskan: ingin sekali membuat hari itu istimewa, tetapi untuk mengambil kue pun kaki saya belum dapat diandalkan. Beberapa bulan terakhir ia lebih sering menjadi orang yang pergi, mengurus, dan membawa pulang sesuatu untuk kami. Di hari yang seharusnya menjadi miliknya, saya ingin ia bisa berhenti sejenak dari semua itu.
Ketika ia tiba, saya mengucapkan selamat ulang tahun dan mendoakannya. Saya bertanya apakah ada barang yang ia perlukan atau inginkan, lalu memberinya uang. Tidak banyak, tetapi cukup untuk membeli sesuatu yang sederhana pilihannya sendiri. Saya sempat malu karena yang saya berikan jauh dari yang ingin saya siapkan. Lalu saya ingat: ia tidak membutuhkan saya berpura-pura bahwa keadaan kami baik-baik saja. Ia berhak mendapat perhatian yang jujur, termasuk kebebasan kecil untuk memilih sesuatu bagi dirinya setelah begitu banyak keperluan keluarga didahulukan.
Kami menaruh kue di dekat kami dan mengambil foto selfie bertiga dengan kamera ponsel. Anak kami bergerak ketika kami mencari sudut yang pas; kami menyesuaikan posisi, lalu mencoba lagi. Saya melihat istri saya di layar, berdiri di tengah keadaan yang belum ringan, tetap menyisakan senyum untuk keluarga kami. Saya ingin suatu hari ia melihat foto itu dan tahu bahwa saya tidak menganggap semua yang ia lakukan sebagai sesuatu yang otomatis. Tidak ada kejutan besar pada hari itu. Ada kue yang ia jemput sendiri, doa yang saya ucapkan sungguh-sungguh, sedikit uang di tangannya, dan kami bertiga yang memilih tetap berada dalam satu bingkai.
Kami berfoto selfie bertiga dengan kue ulang tahun istri yang telah kami pesan.
Di rumah saya belajar berdiri lebih lama. Di rumah sakit saya belajar mengulang gerakan yang tampaknya terlalu sederhana untuk disebut latihan. Pada bulan pertama dan kedua, kursi roda masih membantu saya menempuh lorong. Setelah itu saya mulai bisa berjalan sendiri, pelan dan tidak rata. Telapak kaki belum sepenuhnya menapak; tumit dan tungkai kanan seolah masih berunding dengan lantai. Ada kemajuan yang terlihat jelas bagi saya, walau mungkin tidak terlihat oleh orang yang berpapasan sekali saja. Saya mulai memahami bahwa ukuran kemajuan tidak selalu berupa jarak. Kadang kemajuan adalah berani mencoba lagi setelah gerakan kemarin membuat kita takut.
Setelah gips lepas, hanya area jahitan kaki kanan yang diperban.
Sesudah gips dilepas, saya mulai mencari pekerjaan rumah yang dapat dilakukan tanpa memaksa kaki kanan. Sambil duduk saya memilah pakaian dan memasukkannya ke mesin cuci; pada hari lain saya mencoba memperbaiki barang yang rusak. Ketika sudah sanggup bergerak lebih jauh dengan aman, saya merapikan rumah dan menyapu sedikit demi sedikit, lalu beristirahat saat kaki meminta. Bagi saya itu pekerjaan ringan. Bagi istri, satu urusan yang selesai berarti ada sedikit ruang untuk menarik napas. Ia tidak harus meminta saya membantu; saya yang mulai memperhatikan apa yang bisa saya kerjakan.
Sambil menjaga kaki kanan tetap terangkat, saya mulai membantu mencuci pakaian.
Menjelang bulan ketiga, saya mencoba kembali mengendarai motor yang setia menemani kami itu. Saya tahu kaki saya belum pulih sepenuhnya, dan keputusan itu membuat saya harus berhati-hati. Keinginan untuk kembali melakukan sesuatu sendiri begitu kuat.
Saya mulai mencoba kembali mengendarai motor saat pemulihan berlanjut.
BAGIAN 06 / 08
Angka-angka di Lantai Keluarga
Selama berbulan-bulan saya tidak bisa bekerja seperti biasa. Penghasilan yang masuk tidak cukup untuk menutup kebutuhan sebulan. Ada uang yang sejak lama kami sisihkan untuk keadaan darurat. Ada pula simpanan investasi yang sedang turun nilainya, tetapi akhirnya tetap harus dicairkan. Saya mengingat angka-angka itu lebih baik daripada beberapa tanggal kontrol.
Anak kami tetap membutuhkan makan, pakaian, dan hal-hal kecil yang tidak bisa ditunda sampai kaki saya membaik. Kehamilan istri juga terus berjalan. Di lantai ruang keluarga, saya beberapa kali menghitung berapa lama uang yang tersisa dapat membawa kami sampai bulan berikutnya. Dari tempat yang sama, kami dapat melihat anak kami bermain atau tertidur. Angka-angka itu tidak pernah sekadar angka; masing-masing berhubungan dengan seseorang yang saya sayangi. Perhitungan yang sama bisa menghasilkan rasa takut yang berbeda setiap malam.
Pada suatu malam, setelah anak kami tertidur, kami kembali duduk di lantai itu. Saya menghitung ongkos berobat; istri mengingatkan kebutuhan anak yang luput dari catatan saya. Kami memeriksa ulang jumlahnya, tetapi uang yang tersedia tidak bertambah hanya karena kami menghitungnya dua kali. Saya sempat ingin menutup percakapan dan menundanya sampai besok. Istri justru mengajak saya melihat mana yang harus didahulukan. Di sela menghitung, ia bercerita tentang urusan yang datang beruntun sejak kecelakaan. Saya mendengarkan sampai ia selesai. Malam itu kami belum punya jawaban untuk semua bulan di depan, tetapi keputusan untuk pekan berikutnya kami buat bersama.
Di lantai ruang keluarga, kami mencari cara untuk sampai ke pekan berikutnya.
Saya dulu mengira tabungan untuk masa depan akan selalu dipakai untuk sesuatu yang tampak seperti kemajuan: rumah yang lebih baik, rencana keluarga, kesempatan yang lebih luas. Ketika kami menggunakannya untuk ongkos ke rumah sakit dan kebutuhan harian, saya sempat merasa rencana itu runtuh. Perlahan saya melihatnya dengan cara lain. Uang yang kami sisihkan bukan gagal menjadi masa depan. Pada saat itulah ia sedang melindungi masa depan kami, dalam bentuk yang tidak pernah kami gambar sebelumnya.
Kesadaran itu tidak menghapus cemas. Keinginan istri dan anak harus kami hitung ulang; ada pembicaraan yang belum sanggup saya ceritakan di sini. Kami menyesuaikan diri, satu tagihan pada satu waktu. Kadang kami harus berkata, untuk sekarang kita cukupkan dulu, lalu menanggung kecewanya bersama.
BAGIAN 07 / 08
Kembali, Meski Belum Utuh
Sekitar tiga hingga empat bulan setelah kecelakaan, saya kembali bekerja. Kaki belum normal. Saya masih harus berpegangan saat berjalan dan kadang bertumpu pada ujung kaki. Pekerjaan saya banyak dilakukan sambil duduk, sehingga saya bisa mulai masuk sambil tetap mengikuti pemulihan. Keputusan itu lahir dari kebutuhan rumah, juga dari keinginan untuk kembali mengambil bagian dalam kehidupan yang selama ini ditopang orang lain.
Pada hari pertama, perjalanan dari tempat saya turun menuju meja kerja memakan waktu lebih lama daripada yang saya ingat. Saya memperlambat langkah ketika kaki kanan terasa menegang dan mencari pegangan saat perlu. Begitu tiba, saya mengatur posisi kaki sebelum mulai bekerja. Orang-orang di sekitar saya menjalani pagi seperti biasa; saya pun mencoba, dengan gerak yang belum biasa. Menjelang pulang, tenaga saya hampir habis. Namun saya bisa mengabari istri bahwa hari pertama telah saya lewati. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, saya pulang membawa kabar tentang pekerjaan, bukan hanya tentang hasil pemeriksaan kaki.
Saya kembali bekerja sambil tetap menjalani pemulihan kaki kanan.
Kantor lama jauh dari rumah dan rumah sakit. Jadwal kontrol membuat saya sering meminta izin, sehingga ada pekan ketika saya hanya masuk tiga atau empat hari. Saya mengajukan permohonan pindah ke lokasi kantor yang lebih dekat. Sekitar tiga minggu setelah saya kembali bekerja, permohonan itu disetujui. Saya mulai bekerja di lokasi baru setelah libur panjang Lebaran. Perjalanan ke sana kira-kira dua puluh menit dalam keadaan normal. Rumah sakit pun lebih mudah dijangkau.
Saya masih menjalani kontrol dan terapi berkala, sampai lebih dari tujuh bulan setelah kejadian. Dari kantor baru, saya dapat pergi sendiri ke rumah sakit, menyelesaikan pemeriksaan, lalu kembali bekerja. Pada beberapa hari saya hanya membutuhkan beberapa jam. Saya mulai mampu menyusun ulang hari tanpa setiap jadwal terasa saling bertabrakan.
Orang mungkin mengira kembali bekerja berarti cerita sakit telah selesai. Bagi saya, kembali bekerja berarti membawa proses pemulihan masuk ke dalam rutinitas. Saya belajar duduk ketika perlu, bergerak ketika mampu, dan tidak menyamakan keberanian dengan memaksa tubuh. Ada pagi ketika berjalan dari parkiran saja sudah menghabiskan banyak tenaga, sementara pekerjaan baru akan dimulai. Namun ada pula sore ketika saya sadar telah melewati satu hari utuh. Saya mulai mengagumi hal yang dulu luput dari perhatian: kemampuan untuk datang kembali, meski langkah belum serupa dengan langkah orang lain.
Sekembali bekerja, saya tetap memperhatikan pekerjaan ringan yang dapat saya lakukan di rumah. Ada sore ketika kaki kanan terasa berat, sementara pakaian menunggu di mesin cuci atau ada bagian rumah yang perlu dirapikan. Saya memilih yang sanggup dikerjakan, lalu beristirahat. Istri saya pernah melewati malam kecelakaan sambil mengurus anak, berkas, dan biaya dalam keadaan hamil muda. Saya mengaguminya, tetapi ia bukan sekadar pasangan atau tempat saya pulang; rumah ini juga harus menjadi tempat ia boleh mengakui bahwa ia lelah. Saya mulai lebih sering bertanya apa yang perlu saya ambil alih dan mendengarkan jawabannya, termasuk saat ia hanya ingin didengarkan.
BAGIAN 08 / 08
Ukuran Sebuah Jalan
Kaki saya belum kembali seratus persen seperti semula. Masih ada gerakan yang perlu saya pikirkan, langkah yang lebih lambat, dan rasa sakit yang sesekali datang tanpa saya ceritakan. Ketika harus melewati lokasi kecelakaan, masih ada sedikit trauma. Jalan itu tetap jalan yang sama bagi orang lain; bagi saya, gelapnya Kamis malam itu kadang kembali tanpa diminta. Banyak rencana tertunda dan kesempatan terlewat. Jika bisa memilih, saya ingin malam itu berakhir seperti malam biasa: saya menaruh kunci motor di tempatnya, lalu mendengar suara anak dari dalam rumah.
Melewati tempat kejadian masih membangkitkan ingatan yang berat.
Namun setelah kejadian, saya tidak lagi mengukur sebuah jalan hanya dari berapa kilometer yang harus ditempuh. Jalan pulang saya dimulai di tepi aspal ketika orang asing menghentikan motornya. Ia berlanjut di ruang gawat darurat, di kantor polisi, di tempat tidur rumah sakit yang kebetulan kosong, di gang yang terlalu panjang bagi kaki cedera, di bawah jas hujan yang menutupi plastik pembungkus kaki, dan di lantai ruang keluarga tempat kami menghitung uang untuk bertahan.
Di setiap tempat itu ada orang yang memberi sebagian tenaga dan waktunya. Sebagian tidak sempat saya tanyai namanya; sebagian bahkan tidak sempat saya ucapkan terima kasih. Saya pernah merasa malu karena terlalu banyak menerima bantuan. Sekarang saya mencoba melihatnya lebih tepat. Kemandirian tidak hilang ketika seseorang perlu ditopang. Pertolongan yang saya terima meninggalkan tugas kecil yang bisa saya bawa ke mana pun: bila suatu hari saya melihat orang lain terhenti di pinggir jalannya, saya tidak perlu menunggu menjadi orang paling siap untuk berhenti dan membantu.
Foto dari hari ketika kami mensyukuri kelahiran anak masih berada di atas televisi, tercetak tanpa bingkai. Dalam foto itu kami berdiri berdekatan setelah berkali-kali menekan tombol rana sendiri. Saya tampak seperti seseorang yang tahu cara menjaga keluarganya. Saya tersenyum pada pikiran itu. Dulu saya mengira kemampuan menjaga akan selalu terlihat dari hal-hal yang dapat saya lakukan sendiri: mengangkat, mengantar, menyelesaikan. Kini, setiap melihat foto itu, saya teringat istri yang menyuapi saya di kamar pasien, orang asing yang menopang saya ke tepi jalan, dan anak yang duduk di pangkuan saya ketika kursi roda didorong. Tak satu pun momen itu tertangkap kamera studio, tetapi semuanya ikut membawa kami sampai hari ini. Foto itu tetap tanpa bingkai; kami masih ingat betapa seringnya harus menekan tombol rana sampai bertiga berada dalam satu gambar.
Pada suatu sore, anak kami membawa beberapa balok mainan dan menggesernya ke dekat saya. Saya duduk dengan kaki kanan disangga, menyerahkan balok satu per satu sementara ia menyusun menara di atas meja rendah. Ketika bangunannya mulai miring, ia menatap saya, menunggu saya ikut bermain. Saya menahan satu balok sebentar, lalu membiarkan tangannya menyelesaikan sisanya. Menara itu akhirnya roboh, dan ia tertawa seolah tidak ada yang perlu disesali. Saya ikut tertawa. Ia tidak meminta saya berlari atau menggendongnya keliling rumah. Sore itu, cukup baginya saya ada di sana. Bagi saya, bisa menyaksikan ia mencoba lagi terasa lebih besar daripada menara yang berhasil kami bangun.
Saya bermain balok bersama anak kami dengan kaki kanan tetap disangga.
Anak kami mungkin belum memahami cerita di balik foto itu. Suatu hari saya ingin ia tahu siapa saja yang menolong kami: pengendara yang membonceng saya, orang yang tetap tinggal, keluarga yang datang bergantian, dan ibunya yang menempuh malam panjang sambil menggendongnya. Mungkin dari situ ia akan mengerti bahwa sebuah kepulangan sering dibangun oleh tangan-tangan yang tidak tampak dalam foto.
Saya masih berjalan menuju pulih. Ada hari ketika kaki kanan bergerak lebih ringan, ada hari ketika saya kembali harus melambat. Di rumah, foto tanpa bingkai itu tetap berada di atas televisi. Anak kami bertambah besar; istri saya dan saya masih menyusun hari demi hari dengan kemampuan yang kami punya. Ketika saya memandang foto itu, saya tidak lagi melihat sebuah hari sebelum semuanya berubah. Saya melihat awal dari banyak perjalanan yang belum selesai kami ceritakan.
Keluarga kami terus melangkah bersama; kisah ini masih berlanjut.